Sejarah Penemuan Bubuk Mesiu | Sepenggal Sejarah

Posted by Taufiq Rochmat on 03:05 PM, 25-Jun-12 • Under: Pengetahuan Umum , Sepenggal Sejarah

SEJARAH MESIU

A.    Penemuan Mesiu dan Bangsa Cina

Senjata angin maupun senjata api bukan merupakan hal yang baru pada saat sekarang ini. Karena banyak sekali senjata api berbagai jenis yang sering dilihat di film-film maupun melihat liputan mengenai para korban perang yang mati karena tertembak. Namun sesungguhnya peluru yang ada di dalam senjata membutuhkan suatu pelontar agar bisa keluar dari dalam senjata dengan memanfaatkan energy hasil suatu ledakan. Ledakan yang berasal merupakan hasil ledakan suatu zat yang sering di sebut dengan mesiu.

Mesiu ditemukan kira-kira sekitar abad ke 8 oleh bangsa cina. Awalnya mesiu ditemukan secara tidak sengaja oleh para ahli kimia yang sedang melakukan percobaan berabad-abad untuk membuat ramuan keabadian. Namun ketika ramuan itu dipanaskan bersama belerang, realgar, dan sendawa dengan madu menghasilkan asap dan api, sehingga tangan dan wajah mereka terbakar  dan bahkan seluruh rumah tempat mereka bekerja habis terbakar. Setelah ditemukannya bubuk mesiu tersebut para infantry dari Negara cina langsung menggunakannya. Penggunaan bubuk mesiu pertama kali digunakan dalam peperangan di Cina pada tahun 919 M sebagai sumbu untuk mesin pembakar. Pada saat itu penggunaan bubuk mesiu menggunakan sejenis tabung yang berisi peluru meriam, sehingga ketika dinyalakan akan keluar api dan peluru meriam yang keluar dari dalam tabung. Namun pada saat itu bubuk mesiu hanya digunakan pada alat pengepungan dan juga alat bom asap beracun. Sehingga resep pembuatannya pun berbeda, mesin pengepungan (48,5% sendawa, 25,5% belerang, 21,5% lain-lain), bom asap beracun (38,5% sendawa, 19% belerang, 6,4% arang dan 35,85% lain-lain). Namun banyak campuran dari mesiu Cina mengandung  zat-zat  beracun seperti merkuri dan senyawa arsenic.

Selain kedua rumus tersebut  Wujing zongyao membuat suatu rumus yang didalamnya terdapat rentang 27-50 persen nitrat. Untuk mendapatkan rumus tersebut dilakukanlah percobaan dengan berbagai tingkat konten perbandingan campuran sendawa dan pada akhirnya mampu memproduksi produk bom, granat, dan ranjau, di samping memberikan panas api senjata meriam yang baru pada kehidupan. Pada  akhir abad ke-12, diciptakanlah suatu alat yang terbuat dari  besi yang penuh dengan bubuk mesiu granat formulasi yang mampu menerobos kontainer-kontainer logam. Akhirnya pada akhir abad ke-13 rumus dari bubuk mesiu ini dapat ditemukan setelah dilakukan penggalian di kota Xi’an. Bubuk mesiu ini merupakan  aglomerasi dari 60% sendawa, 20% sulfur, dan 20% arang. Di abad ke-14 terdapat rumus Huolongjing  yang berisi resep mesiu dengan tingkat nitrat yang lebih tinggi yaitu berkisar antara 12% sampai 91%, rumus ini merupakan rumus yang mendekati komposisi teoritis maksimal yang mempunyai kekuatan ledakan yang sangat besar.

Zhang (1986) berpendapat bahwa keberhasilan arteleri mengubah fungsi  bubuk mesiu dari sekedar bahan pembakar berubah sebagai suatu bahan peledak yang sangat berbahaya, karena   ini dimungkinkan oleh peningkatan dalam penyempurnaan belerang dari pirit pada masa Dinasti Song. Pada awal abad ke-11, pemerintah Dinasti Song khawatir bahwa musuh-musuh asing mungkin mengetahui mengenai rahasia dari bubuk rahasia mesiu. karena bubuk mesiu merupakan senjata yang paling tangguh pada massa itu. Menurut  Song Shi (Sejarah Dinasti Song) mencatat bahwa, pada tahun 1067 M, pemerintah dinasti song  melarang rakyat Hedong (sekarang-Shanxi dan Hebei) untuk melakukan penjualan kepada pihak asing segala bentuk belerang atau sendawa. Pemerintah  Song akhirnya bertindak lebih jauh lagi dengan mengeluarkan larangan pada semua transaksi komersial swasta sendawa dan belerang, karena takut jika rakyatnya melakukan transaksi perdagangan bubuk mesiu di daerah perbatasan, maka pemerintah menciptakanmenciptakan suatu sistem dagang yang monopoli produksi dan distribusi komersial bubuk belerang.

Pada tahun 1260, gudang pribadi milik panglima Dinasti Song Zhao Nanchong terbakar dan meledak, menghancurkan beberapa rumah terpencil dan menewaskan empat dari hewan peliharaan harimau yang berharga. Za Zhi Xin Gui (1295) mencatat bahwa kecelakaan yang jauh lebih besar terjadi di Weiyang  di 1280, di sebuah gudang senjata yang digunakan terutama untuk penyimpanan trebuchet-bom diluncurkan. Dahulunya posisi pengrajin yang ahli semua dipegang oleh orang Selatan (yaitu, orang Cina).Tapi mereka terlibat dalam pemborosan uang negara, sehingga mereka harus dipecat, dan semua pekerjaan mereka akhirnya diberikan kepada orang-orang utara (Mongol).  Sayangnya, orang-orang ini utara ini tidak mengerti apa-apa tentang penanganan zat kimia. Tiba-tiba suatu hari, ketika tumpukan belerang yang sedang disimpan  terkena ledakan  api, maka tumpukan belerang itupun terbakar, dan berkelebat ke sana kemari seperti ular yang sangat menakutkan. Pada mulanya para pekerja yang bodoh itu menganggap hal itu lucu, tertawa dan bercanda, tapi setelah beberapa waktu bom api  mulai memasuki daerah pertokoan, dan kemudian terdengar suara seperti letusan gunung berapi dan lolongan badai di laut. Seluruh penduduk kota itu takut, berpikir bahwa tentara telah mendekati kota mereka  Bahkan pada jarak seratus li (satuan), ubin rumah bergoyang dan gemetar sperti ada gempa bumi. Gangguan seperti ini  berlangsung cukup lama yaitu sepanjang siang hari dan malam hari. Setelah pemerintah melakukan inspeksi dan juga pemulihan mereka menemukan terdapat seratus orang dari penjaga itu meledak berkeping-keping, tiang dan pilar-pilar telah terbelah atau terbawa oleh kekuatan ledakan yang mempunyai radius ledakan lebih dari sepuluh li (satuan). Tanah yang dulunya halus sekarang berubah menjadi kawah dan parit yang dalamnya lebih dari sepuluh meter. Jumlah korban dari ledakan ini diperkirakan diatas dua ratus keluarga korban bencana yang tak terduga ini.

Pada tahun 1259 M, Li Zengbo menulis dalam Zhai Za Ko Gao, Gao Xu Hou yang  merupakan kota Qingzhou yang mampu membuat  satu sampai dua ribu bom dalam sebulan untuk pengiriman ke Xiangyang dan untuk ke Yingzhou sekitar sepuluh sampai dua puluh ribu bom sekali pengiriman. Pada abad ke-13, bangsa Mongol menguasai Tiongkok dan juga  teknologi mesiu. Sehingga penggunaan meriam dan roket menjadi fitur perang Asia Timur setelah itu, sebagai musuh  dinasti Song mereka menangkap pengrajin dan insinyur dan menempatkan mereka untuk membuat senjata. Setelah tahun 1279 M, sebagian besar senjata yang diambil dari kota-kota besar merupakan barang-barang senjata milik bangsa mongol.  Pada 1330-an, hukum Mongol melarang semua jenis senjata berada di tangan Cina. Namun, hal ini terbatas pada warga sipil yang tidak biasanya membawa senjata. Sebuah catatan dari pertempuran di dekat Hangzhou pada tahun 1359 M mencatat bahwa Dinasti Ming Cina dan Mongol, keduanya dilengkapi dengan meriam. Sehingga , tebal tembok kota dari Beijing(mulai 1406), secara khusus mulai dirancang untuk menghadapi serangan artileri dan dinasti Ming (1368-1644) memindahkan ibukota dari Nanjing ke Beijing pada 1421, karena perbukitan di sekitar lokasi Nanjing bagus untuk untuk menempatkan artiler penyerbu. Pada abad ke-13, dokumentasi kontemporer menunjukkan bahwa mesiu mulai menyebar dari Cina ke seluruh dunia

B.    Penyebaran Mesiu di Bangsa Islam

Orang Arab memperoleh Pengetahuan mesiu setelah tahun 1240 M, tapi sebelum tahun 1280 M, resep untuk mesiu, petunjuk pemurnian sendawa, serta  deskripsi mengenai  mesiu telah ditulis oleh Hasan Al-Rammah dalam bahasa Arab. Hasan Al-Rammah juga menggambarkan proses memurnikan sendawa dengan menggunakan proses kimia dari larutan dan kristalisasi. Ini adalah metode pertama yang jelas untuk pemurnian sendawa. Torpedo juga ditrmukan pertama kali tahun 1270 M  oleh Hasan Al-Rammah dalam Kitab al-furusiyyah wa al-manasib al-harbiyya (The Book of Military Horsemanship and Ingenious War Devices), yang digambarkan torpedo berlari dengan sistem roket diisi dengan bahan peledak dan memiliki tiga poin penembakkan. Al-Hasan berpendapat bahwa mesiu akan menjadi lazim di Syria dan Mesir pada akhir abad kedua belas atau awal tiga belas.

Al-Hasan mengklaim bahwa meriam pertama dalam sejarah telah digunakan oleh Mamluk terhadap bangsa Mongol di Pertempuran Ain Jalut tahun 1260 M namun Khan mengklaim bahwa itu serbuan bangsa  Mongollah yang memperkenalkan mesiu ke dunia Islam dan Makluk telah mengutip persenjata senapan awal untuk infanteri mereka sebagai contoh senjata mesiu tidak selalu mendapat  penerimaan terbuka di Timur Tengah. Demikian pula, penolakan pasukan Qizilbash mereka untuk menggunakan senjata api pada saat Safawi mengalami kekalahan di Chaldiran pada 1514 M. Meskipun secara konsensusmenyatakan bahwa mesiu berasal dari Cina, namun Roger Bacon, atau Berthold Schwarzlain menyatakan bahwa mesiu mungkin telah ditemukan oleh bangsa Arab. Alas an umum menyatakan bahwa ahlikimia dan kimia arab tidak mengetahui sendawa sampai abad ketiga belas, namun Ahmad Y Hassan berpendapat bahwa orang-orang Arab memurnikan sendawa pada abad kesebelas dan yang paling awal menerapkan sendawa di dunia militer (dikenal sebagai barud dalam bahasa Arab) di dunia Islam ini digambarkan dalam sebuah naskah Arab yang ditulis beberapa waktu sebelum 1225 M. Menurut Johnson (2008),” orang-orang Arab telah mampu mengembangkan pisto pertamal dengan menggunakan tabung bambu yang diperkuat dengan besi dan digunakan dengan suatu bubuk hitam(bubuk mesiu) untuk memecat anak panah beberapa waktu sebelum 1300 M”. Namun, menurut Chase (2003), “orang-orang Arab memperoleh persenjataan api di tahun 1300-an dan semua bukti mengarah ke asal Cina”.

C.   Mesiu di India

Teknologi mesiu Cina diyakini telah tiba di India pada pertengahan 1300-an, tetapi bisa saja diperkenalkan jauh sebelumnya oleh Mongol, yang telah menaklukkan Cina dan India sejak pertengahan 1200 M. Penyatuan tunggal  Kekaisaran Mongol mengakibatkan penyebaran bebas teknologi cina yang sebelumnya sangat rahasia oleh mongol untuk menaklukkan india. Diyakini bahwa Mongol menggunakan senjata mesiu cina selama invasi dan penaklukan berikutnya. Itu ditulis dalam buku Tarikh-i Firishta (1606-1607 M) menyatakan bahwa utusan dari penguasa Mongol Khan Hulegu disambut dengan menampilkan kembang api yang menyilaukan setibanya di Delhi pada tahun 1258 Masehi. Sejak saat itu tenaga kerja dari peperangan mesiu di India sudah umum dengan peristiwa-peristiwa seperti pengepungan Belgaum pada 1473 Masehi oleh Sultan Muhammad Shah Bahmani.

Pada abad ke-16, orang India telah manufaktur beragam jenis senjata api,dan senjata besar pada khususnya, hal ini dapat dilihat di Tanjore, Dhaka, Bijapur dan Murshidabad. Senjata yang terbuat dari perunggu itu diperoleh dari Calicut (1504) dan Diu (1533). Sendawa Eropa disuplai untuk digunakan dalam peperangan mesiu selama abad ke-17. Selain itu Bengal dan Mālwa berpartisipasi dalam memproduksi sendawa. Orang Belanda, Perancis, Portugis, dan Inggris digunakan sebagai Chapra yaitu sebagai pusat penyulingan sendawa. Fathullah Shirazi (1582), seorang berkebangsaan Persia – India dan ia merupakan insinyur mesin yang bekerja untuk Akbar yang Agung di Kekaisaran Mughal, ia  menemukan autocannon, yaitu senapan multi-shot paling awal sebagai lawan dari polybolos dan panah berulang yang sebelumnya digunakan di Yunani kuno dan Cina.

Dalam Encyclopedia Britannica (2008), Stephen Oliver Fought & John F. Guilmartin, Jr menggambarkan teknologi mesiu di abad ke-18 di India, dengan mengacu pada roket artileri yang digunakan oleh Kerajaan Mysore. Kerajaan ini telah mampu mengembangkan roket dengan perubahan penting yaitu penggunaan dari silinder logam mengandung bubuk pembakaran. Meskipun yang digunakan untuk memukul besi lunak adalah minyak mentah namun kekuatan ledakan wadah bubuk hitam jauh lebih tinggi dari sebelumkonstruksi kertas. Jadi mungkin  tekanan internal yang lebih besar dengan resultan lebih besar mampu  mendorong jet. Tubuh roket diikatkan dengan tali kulit dari tongkat bambu yang panjang. Range ini mungkin sampai tiga-perempat mil (lebih dari satu kilometer. Meskipun secara individual roket ini tidak akurat, kesalahan dispersi menjadi kurang penting ketika jumlah yang sangat besar dan cepat dalam serangan missal sehingga mereka sangat efektif melawan kavaleri. Putra Hyder Ali yang bernama Tippu Sultan, terus mengembangkan dan memperluas penggunaan senjata roket, dilaporkan meningkatkan jumlah pasukan dari 1.200 roket menjadi 5.000 roket. Dalam pertempuran di Seringapatam pada tahun 1792 dan 1799 roket ini digunakan dengan efek yang cukup besar melawan Inggris. Berita tentang penggunaan roket berhasil menyebar ke seluruh Eropa. Di Inggris Sir William Congreve mulai melakukan percobaan pribadi.. Pertama, ia bereksperimen dengan sejumlah formula bubuk hitam dan meletakkan komposisi spesifikasi standar.  Dia juga menggunakan standar detail konstruksi dan menggunakan teknik produksi.  Juga, dengan desain yang memungkinkan untuk memilih salah satu bahan peledak (bola muatan) atau pembakar hulu ledak.

D.   Mesiu di Eropa

Salah satu teori tentang bagaimana mesiu datang ke Eropa adalah ketika pemembuatan  jalan di sepanjang Jalan Sutra melalui Timur Tengah. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa mesiu dibawa ke Eropa selama invasi tentaraMongol di paruh pertama abad ke-13, atau masuknya mesiu terjadi selama hubungan  diplomatik dan militer (aliansi Franco-Mongol). William dari Rubruck, seorang duta besardi utus ke bangsa Mongol di 1254-1255 sering ditunjuk sebagai perantara mungkin juga sebagai  transmisi pengetahuan tentang mesiu antara Timur dan Barat. Salah  satu referensi Eropa yang paling awal mengenai mesiu dapat ditemukan di Epistola de secretis operibus artiis et Naturae  dari 1267. Disini ditulis resep untuk mesiu di Eropa yang tercatat di bawah nama Marcus Graecus atau Yunani antara 1280 dan 1300 Masehi. Namun, mesiu pertama kalinya digunakan di dunia Barat untuk kepentingan militer pada tahun 1262 masehi,  ketika raja Alfonso X dari Kastilia terlibat pada pengepungan kota Niebla di Spanyol.

Pada tahun 1326, yang paling awal diketahui gambaran pistol Eropa muncul dalam sebuah naskah yang dibuat oleh Walter de Milemete. Pada tanggal 11 Februari tahun yang sama, Signorina Florence mengangkat dua perwira untuk memperoleh canones de mettallo dan amunisinya  untuk pertahanan kota Sebuah referensi dari 1331 menggambarkan serangan-mount oleh dua Jermanik ksatria di Cividale del Friuli, menggunakan senjata mesiu yang sama dengan canones de mettallo  Pertempuran  Crécy di 1346 adalah salah satu pertempuran yang pertama kali menggunakan meriam. Pada tahun 1350, hanya empat tahun kemudian, Petrarch menulis bahwa keberadaan meriam di medan perang merupakan hal yang wajar dan penggunaannnya sama dengan senjata-senjata yang lainnya. Sekitar akhir abad ke-14, Eropa mulai menambahkan cairan powdermakers ke konstituen mesiu untuk mengurangi debu.Powdermakers  kemudian akan membentuk pasta yang kemudian membasahi mesiu. Walaupun berbentuk seperti bedak namun mempunyai fungsi baik karena mengurangi luas permukaan, penembak juga menemukan bahwa itu lebih kuat dan lebih mudah untuk me-load ke dalam senjata. Keuntungan utama Corning adalah bahwa api menyebar antara butir, pencahayaan mereka semua, sebelum ekspansi gas yang signifikan telah terjadi (ketika mesiu meledak). Tanpa Corning banyak bubuk dari api awal akan meledak keluar dari laras sebelum dibakar. Ukuran butiran yang berbeda untuk berbagai jenis senjata. Sebelum Corning, mesiu akan secara bertahap ke dalam konstitutif demix komponen dan terlalu diandalkan untuk digunakan dalam senjata yang lebih efektif . Proses granulasi yang sama digunakan saat ini dalam industri farmasi untuk memastikan bahwa setiap tablet mengandung proporsi bahan aktif yang sama.  Tak lama kemudian, powdermakers standar diproses dengan memaksa pabrik kue memprosesnya melalui saringan bukannya Corning bubuk dengan tangan.

Namun  selain sebagai senjata mesiu juga digunakan untuk membuat kembang api perayaan ataupun kemenangan. Pada pertengahan abad ke-17 kembang api yang digunakan untuk hiburan dalam skala yang belum pernah terjadi di Eropa sebelumnya, sehingga menjadikan kembang api terkenal bahkan sampai di resort dan taman-taman umum. Namun pada paruh terakhir dari abad 19  melihat penemuan nitrogliserin, nitroselulosa dan bubuk, tanpa asap yang mungkin akan segera mengganti bubuk hitam di banyak aplikasi

 

 


Al-Hassan, Ahmad Y. “Kalium nitrat dalam bahasa Arab dan bahasa Latin “. Sejarah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Islam. Http://www.history-science-technology.com/Articles/articles%.203.htm.

Shadily, Hasan­-Van Hoeve.1990.”ensiklopedi Indonesia”.Mhtiar Baru:Jakarta

www.history-science-technology.com

 

 

 

Original post at Here

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

1 responses to "Sejarah Penemuan Bubuk Mesiu | Sepenggal Sejarah"

KIRA on 03:55 PM, 25-Jun-12

ga masuk amerika tah

Subscribe to comments feed: [RSS] [Atom]

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(Some BBCode tags are allowed)

Security Code:
Enable Images